Senin, 24 Juni 2024

Tetap Menyala Bersama JNE

Aku adalah seorang ibu rumah tangga. Selain mengurusi pekerjaan rumah, aku juga mengisi hari-hariku dengan berbagai aktivitas. Siaran radio, menulis, dan menjalankan usaha kuliner secara daring. Sebenarnya menjadi ibu rumah tangga saja sudah cukup repot. Waktu 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, rasanya masih sangat kurang untuk mengurusi rumah dan penghuninya. Namun, sebagai individu, aku membutuhkan ruang untuk mengaktualisasikan diri. Mengeja bahagia dengan melakukan aktivitas lain di luar rutinitas sebagai ibu rumah tangga.

Selain kepuasaan batin, dari aktivitas-aktivitas tersebut aku juga memperoleh penghasilan. Hal ini tentu saja berdampak baik pada stabilitas perekonomian keluarga. Memang sih, sebagai istri, aku tak punya kewajiban mencari nafkah. Namun, namanya rumah tangga ya, terkadang ada situasi yang membuat istri pun harus turun berperan.

Itu pula yang terjadi ketika pekerjaan suamiku sedang tak baik-baik saja. Aktivitas yang awalnya kulakukan sebagai aktualisasi diri, akhirnya jadi penyangga agar ekonomi keluargaku tak terpuruk. Usaha kuliner secara daring menjadi ladang bagi aku dan suamiku memetik rezeki

Oya, produk usaha kulinerku adalah cilok kuah dan cilok goreng dengan merek Damira. Di daerahku, Tasikmalaya, cilok bukan makanan istimewa. Jajanan ini bisa dengan mudah didapatkan. Oleh karena itu, aku mencari cara agar cilok jualanku berbeda dengan cilok-cilok yang sudah ada. Selain melakukan beberapa kali percobaan untuk mendapatkan resep cilok yang enak, aku pun melakukan percobaan membuat sambal dengan resep sendiri. Dengan begitu, Cilok Damira memiliki kekhasan yang tak bisa didapatkan dari cilok lain.

Untuk menjangkau pasar yang lebih luas, aku memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. Alhamdulillah, respons dari teman-temanku di media sosial sungguh luar biasa. Selain pesanan dari teman-teman yang berdomisili di Jawa Barat dan Jabodetabek, aku pun memperoleh pesanan dari Yogyakarta, Semarang, Surabaya, bahkan Medan, Jambi, dan beberapa kota besar di Kalimantan.

Jujur saja, awalnya aku sempat ragu melayani pesanan-pesanan tersebut. Cilok buatanku ini tanpa bahan pengawet, aku khawatir apabila sampai di tempat konsumen dalamn keadaan yang sudah tak layak dikonsumsi. Namun, di sisi lain, aku pikir ini adalah tantangan yang harus kutaklukan agar usahaku makin berkembang. Selain itu, ini juga kesempatan memperkenalkan cilok sebagai salah satu makanan khas Sunda pada orang-orang di luar Jawa Barat.

Langkah awal yang kuambil adalah membeli vacuum sealer sehingga bisa mengemas cilok dalam plastik kedap udara. Selain itu, aku juga memilih ekspedisi yang tepat dan terpercaya agar cilokku sampai ke konsumen dalam keadaan baik. Ketepatan waktu pengiriman tentu sangat mempengaruhi kualitas produk yang kukirimkan. Perihal ekspedisi ini, pilihanku jatuh pada JNE.


                                

Awal Mula Mengenal JNE

Perkenalanku dengan JNE bermula pada tahun 2010. Tepatnya ketika aku mengenal dan bergabung dengan sebuah bisnis pemasaran berjenjang. Saat itu upline-ku yang tinggal di Jakarta mengirimkan pesanan melalui beberapa ekspedisi, salah satunya adalah JNE.

Sejujurnya aku tidak terlalu memedulikan ekspedisi yang dipilih upline-ku untuk mengirimkan pesanan. Ekspedisi apa pun tidak masalah selama pesananku sampai ke depan pintu dengan tepat waktu. Hingga pada suatu hari aku mendapatkan telepon dari sebuah ekspedisi. Dia mengatakan paketku sudah sampai di Drop Point, tetapi baru akan diantarkan ke tempatku beberapa hari kemudian, yang mana itu tidak sesuai dengan layanan yang mereka tawarkan. Dia juga menyarankan aku mengambil paket tersebut ke Drop Point apabila membutuhkannya dalam waktu dekat.

“Waduh, yang benar aja, Pak. Masak saya harus mengambilnya ke sana?” Saat itu aku berusaha menjaga intonasi suara supaya tetap terdengar sopan meskipun hati dongkol setengah mati.

Bagaimana tidak dongkol, rumahku ke Drop Point ekspedisi tersebut berjarak kurang lebih 60 kilometer. Untuk sampai ke sana, aku harus berkali-kali naik angkutan umum. Terbayang betapa ribetnya naik turun angkutan umum sambil menyeret-nyeret beberapa kardus seukuran televisi 29 inci. Fyuuuh!

Sejak kejadian itu aku menyadari betapa pentingnya memilih ekspedisi yang jujur, disiplin, dan bertanggungjawab pada produk dan layanan yang ditawarkan. Dari pengalamanku menggunakan JNE, aku bisa menyimpulkan bahwa ekspedisi yang satu ini sangat berusaha menjaga ketiga nilai itu agar bisa mencapai misinya, yaitu memberikan pengalaman terbaik kepada pelanggan secara konsisten. Makanya tak heran apabila sampai tahun 2024 ini JNE memperoleh puluhan penghargaan dari marketplace dan berbagai Lembaga. Hal itu pula yang membuatku tak ragu menjadikan JNE sebagai ekspedisi andalan.


Cilokku Selamat Sampai Tujuan

Sebelum memilih JNE sebagai ekspedisi andalan, aku melakukan riset terlebih dahulu, mencari tahu produk dan layanan yang ditawarkan. Dengan memilih produk yang tepat, cilokku yang memang tanpa bahan pengawet, tentu akan “selamat” sampai tujuan.

Ternyata JNE menawarkan begitu banyak pilihan produk dan layanan, seperti JNE YES, Regular, Oke, Superspeed, Diplomat, JTR, Jesica, dan International Express. Karena hal ini, konsumen pun memiliki keleluasaan untuk memilih produk yang sesuai dengan kebutuhan. Untuk pengiriman cilok, aku biasanya menggunakan layanan YES. Atau, ada kalanya aku menggunakan layanan Regular apabila estimasinya hanya 1 atau 2 hari.



Cakupan layanan YES adalah kota-kota besar yang telah ditentukan. Yang membuatku bahagia adalah layanan YEStidak hanya mencakup kota-kota besar di Pulau Jawa, tetapi juga kota-kota di luar Pulau Jawa.

Dengan layanan YES, kiriman akan sampai pada keesokan harinya, paling lambat pukul 23.59 waktu setempat. Namun, pengalamanku menggunakan produk YES, hampir 99% cilokku sudah sampai ke konsumen pada sore hari atau sebelum pukul 21.00 waktu setempat. Kecepatan dan ketepatan waktu pengiriman ini membuat aku dan konsumen sama-sama senang. Terima kasih banyak ya, JNE.

 

Roda Berputar, Semangat Kreativitas Tetap Menyala

Pelayanan prima JNE membuatku percaya diri dalam melayani pesanan demi pesanan dari berbagai kota. Atas izin Allah usahaku berjalan dengan baik. Selama 5 tahun menjalankan usaha, kendala itu tentu saja ada. Namun, alhamdulillah semua bisa teratasi.

Pada saat memasuki tahun keenam, badai besar itu datang dan tak bisa dihindari. Tiba-tiba saja Corona atau COVID-19 mewabah. Delapan hari setelah diumumkan kasus corona pertama di Indonesia, Presiden Joko Widodo menetapkan kasus COVID-19 sebagai pandemi. Bahkan, sebulan setelahnya COVID-19 ditetapkan sebagai bencana nasional. COVID-19 telah menggoyahkan, bahkan melumpuhkan semua sendi kehidupan. Lockdown, social distancing, work from home, dan school from home merupakan hal-hal baru yang harus diakrabi. Begitu banyak hal yang sekonyong-konyong berubah, termasuk usahaku.

Kala itu, JNE terpaksa menghentikan layanan YES ke beberapa kota untuk sementara waktu. Namun, andaipun layanam YES tak dihentikan, usahaku tetap tak akan berjalan seperti biasa. Penurunan omzet terjadi karena memang sistem perekonomian lumpuh. Hal ini membuat daya beli masyarakat menurun. Untuk saat itu, semua fokus pada bagaimana caranya bertahan hidup. Jajan cilok tentu saja berada di urutan yang ke sekian. Bagi sebagian besar masyarakat, jangankan jajan, untuk bisa memperoleh beras pun sangatlah sulit.

Tahun demi tahun berganti. Kondisi yang teramat pelik mau tak mau harus dijalani. Tak hanya olehku, tetapi seluruh warga Indonesia, bahkan warga dunia. Tak merasa sendiri, mungkin itulah yang membuatku tetap kuat dan semangat di tengah segala kepayahan. Kala itu, selalu kutanamkan keyakinan bahwa semua akan kembali pulih. Lalu, berita membahagiakan itu pun datang.

Pada tanggal 28 Juni 2023, Presiden Joko Widodo secara resmi mencabut status pandemi COVID-19 melalui Keppres. Sekarang, setahun telah berlalu, tetapi dampak keberadaan COVID-19 masih terasa. Beberapa temanku yang juga memiliki usaha mengatakan bahwa saat ini rasanya malah lebih berat dari waktu pandemi. Daya beli masyarakat masih belum pulih. Hal ini disebabkan oleh harga-harga kebutuhan melonjak tinggi. Bukan hanya harga kebutuhan pokok, kebutuhan lain pun sama, termasuk bahan baku yang kugunakan dalam memproduksi cilok. Hal ini tentu saja mempengaruhi harga pokok produksi dan harga jual. Menaikkan harga pada saat daya beli menurun sungguh bukan keputusan yang tepat.

Sebagai orang yang buta tentang ekonomi, aku tidak paham betul perihal yang terjadi saat ini, apakah memang masih merupakan dampak dari pandemi atau karena hal lain. Namun, apa pun yang terjadi, semangat harus tetap menyala. Memang omzet penjualanku tak lagi sebesar dulu, tetapi aku mengupayakan agar usahaku terus bertahan. Lalu, aku mengkreasikan adonan cilok menjadi produk baru yang lebih tahan lama sehingga tak hanya bisa dikirim ke kota-kota besar dalam cakupan layanan YES.

Jadi, selain cilok, sekarang aku juga memproduksi keripik kanji. Cilok dan keripik kanji sama-sama terbuat dari kanji, tetapi melalui proses pengolahan yang berbeda sehingga hasil akhirnya pun berbeda. Sama seperti cilok, keripik kanji pun kujual secara daring. Selama ini cilok hanya bisa dikirim ke kota-kota besar yang tercakup layanan YES, sementara keripik kanji bisa dikirim melalui layanan regular atau oke. Dengan begitu, lebih banyak kota yang bisa dijangkau, lebih banyak pula konsumen yang bisa dijaring.

Sebagaimana JNE yang tetap menyala hingga usianya yang ke-33 tahun, aku pun akan berusaha menjaga usahaku agar tetap menyala. Satu hal yang pasti, apa pun hasil kreativitasku dalam usaha ini, JNE-lah ekspedisi andalanku.

 

#JNE#ConnectingHappiness#JNE33Tahun

#JNEContentCompetition2024 

#GasssTerusSemangatKreativitasnya 

6 komentar:

  1. Duh, jadi kangen cilok damira...
    Btw, saya juga suka pake JNE. Lebih cepet

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kan, kalau nggak salah ke Sukabumi tuh malah siang aja udah nyampe.

      Hapus
  2. Maasyaallah..🥰 sukses selalu teehh🤗

    BalasHapus
  3. Sukses terus untuk cilok Damira dan JNE. 🤗

    BalasHapus