Sabtu, 15 Juni 2024

Kemenangan Besar

                                         Pict. created by AI

Sesaat setelah terdengar ledakan, bumi yang kupijak terasa bergoyang. Refleks aku merunduk ketika kepingan gypsum langit-langit rumah berjatuhan.

Aku masih merunduk ketika ledakan berikutnya terdengar. Kali ini dari arah yang berbeda. Jantungku berdebar. Mungkin detik berikutnya ledakan itu terjadi di rumahku. Mencabik-cabik dagingku hingga menyerupai serpihan.

“Ruba, pergilah segera dari sini!”

Aku mendongak. Lelaki berkeffiyeh tegak di hadapanku. Tangannya memanggul senjata. Kerinduanku membuncah.

“Pergilah! Fadel dan Layla menunggu di belakang rumah.”

“Tapi ….”

“Demi anak kita.” Sammir mengusap perutku yang mulai membukit.

Akhirnya aku menyerah. Namun, sebelum sempat aku melangkah, berondongan tembakan terdengar dari depan rumah.

“Apa pun yang kau dengar, jangan keluar sebelum para penjajah benar-benar pergi,” Sammir mendorongku ke tempat persembunyian.

Aku merapal doa.

Suara tembakan bersahutan.

Jantungku seakan terenggut ketika kudengar Sammir mengerang dan terbata mengucap syahadat. Tak lama kemudian, para penjajah bersorak-sorai, merayakan kemenangan.

Di sini, aku menangis, merayakan sebuah kemenangan besar yang sesungguhnya.

Syahid.


 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar