Pict. created by AI
Sesaat
setelah terdengar ledakan, bumi yang kupijak terasa bergoyang. Refleks aku
merunduk ketika kepingan gypsum langit-langit rumah berjatuhan.
Aku masih
merunduk ketika ledakan berikutnya terdengar. Kali ini dari arah yang berbeda.
Jantungku berdebar. Mungkin detik berikutnya ledakan itu terjadi di rumahku.
Mencabik-cabik dagingku hingga menyerupai serpihan.
“Ruba,
pergilah segera dari sini!”
Aku
mendongak. Lelaki berkeffiyeh tegak di hadapanku. Tangannya memanggul senjata.
Kerinduanku membuncah.
“Pergilah!
Fadel dan Layla menunggu di belakang rumah.”
“Tapi ….”
“Demi anak
kita.” Sammir mengusap perutku yang mulai membukit.
Akhirnya aku
menyerah. Namun, sebelum sempat aku melangkah, berondongan tembakan terdengar
dari depan rumah.
“Apa pun yang
kau dengar, jangan keluar sebelum para penjajah benar-benar pergi,” Sammir
mendorongku ke tempat persembunyian.
Aku merapal
doa.
Suara
tembakan bersahutan.
Jantungku
seakan terenggut ketika kudengar Sammir mengerang dan terbata mengucap
syahadat. Tak lama kemudian, para penjajah bersorak-sorai, merayakan
kemenangan.
Di sini, aku
menangis, merayakan sebuah kemenangan besar yang sesungguhnya.
Syahid. |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar