CARA MENYAMPAIKAN KEBAIKAN


Saya lupa persisnya sejak kapan mengenal dan memiliki akun facebook. Yang pasti sih, saat itu saya sudah jadi emak beranak satu. Agak ketinggalan, karena saya memang kudet dan gaptek.
Tentang kealayan saya di awal-awal punya akun fb, sebaiknya di-skip saja kali yaa. Itu adalah aib yang kadang dimunculkan Om Mark dalam fitur kenangan. Dan sukses membuat saya gimanaaa gitu. Tapi ya sudahlah ... biar jadi pelajaran buat saya supaya lebih “lurus” dalam memanfaatkan sosmed, meski sekarang pun kadang alay dan lebay masih suka kambuh, sih.

Aplikasi buatan Om Mark ini membuat saya terhubung dengan ribuan orang, dari yang memang kenal banget, sekedar tahu nama saja atau tidak kenal sama sekali karena tinggalnya pun di belahan bumi yang berbeda. Hal itu membuat beranda fb dihiasi beragam postingan, mulai yang bikin tertawa sampai emosi jiwa. Ada yang nyinyir, ada pula yang bijak. Lalu, ada yang berkeluh-kesah, ada juga yang berisi nasihat dan mengajak untuk memperbaiki diri.

Yang menggelitik hati saya adalah ketika postingan berisi ajakan kebaikan itu mendapat respon yang negatif karena diksi dan analogi yang kurang tepat, atau malah terkesan menghakimi. Alih-alih membawa pencerahan, justru memicu perdebatan panjang yang kalau saya iseng membaca setiap komentarnya jadi lelah jiwa dan raga. Namun, dari sini kemudian saya belajar bahwa kebaikan hanya akan menjadi kebaikan jika disampaikan dengan cara yang baik.

Lalu, bagaimana caranya menyampaikan kebaikan dengan cara yang baik itu? Menurut saya sih, dengan mendahulukan adab. Saya meyakini bahasa yang santun dan lembut, akan lebih mudah diterima daripada bahasa yang kasar dan menggurui. Perkataan/tulisan yang datang dari hati akan sampai ke hati. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, “Sampaikan yang benar meski itu pahit.” Maka kita sebagai manusia yang berakal perlu menyiasati rasa pahit itu agar bisa dinikmati dengan enak oleh orang lain dan menjadi ladang amal bagi kita.

Selain itu, perkataan/tulisan hendaknya tercermin dalam perbuatan, baik itu di dunia nyata atau dunia maya. Jangan sampai kita mengajak orang lain bertutur baik dengan bahasa yang caci-maki atau mengajak untuk tidak ghibah, tapi kita sering share status dari akun lambe-lambean.

Wallahu’alam

Bagikan artikel ke:

Facebook Google+ Twitter
 

Naratas Kahirupan Copyright © 2008 Green Scrapbook Diary Designed by SimplyWP | Made free by Scrapbooking Software | Bloggerized by Ipiet Notez