Aku
menatapnya. Mengingat perseteruan kami selama bertahun-tahun memang sepatutnya
aku menaruh curiga. Dia sangat membenciku. Sama seperti aku membencinya.
Perseturuan
kami bermula sejak berebut peringkat pertama di sekolah dasar. Lalu, makin
meruncing ketika papaku menikah dengan mamanya. Tak ada yang salah. Papaku dan
mamanya sama-sama berstatus cerai mati. Namun, aku tak sudi berbagi Papa
dengannya. Begitu pun dia, tak sudi berbagi Mama denganku.
“Kau
tak suka kopi, ya?” Dia menatapku. “Kalau jus jeruk, suka?” tanyanya seraya
menggeser gelas jus ke hadapanku.
“Aku
suka dua-duanya, asal kau mau berbagi gelas denganku.”
“Kau
takut aku menaruh racun di minumanmu, ya?”
Aku
tertawa. “Setelah berbagi papa dan mama, apa salahnya kita berbagi gelas? Nanti
malam kita juga akan berbagi ranjang, kan?” kataku seraya mengecup pipi musuh
bebuyutan yang telah kunikahi beberapa jam lalu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar